Nasional

Bukan Sekadar Arsip, Ini Cara Sekolah Membangun Budaya Ilmiah

2512
×

Bukan Sekadar Arsip, Ini Cara Sekolah Membangun Budaya Ilmiah

Sebarkan artikel ini

Surabaya, Indonesiajayanews.com – Di tengah rendahnya minat baca dan kurangnya keterbukaan terhadap publikasi ilmiah di jenjang sekolah menengah, sebuah sekolah internasional di Surabaya, Xin Zhong School, mengambil langkah progresif. Sejak tahun 2023, sekolah ini mengimplementasikan EPrints, sebuah platform repositori digital bersifat open source, untuk menyimpan karya ilmiah, laporan penelitian, dan bahan ajar secara terorganisasi.

Menurut Kimico, Kepala Sekolah SPK SMA Xin Zhong, penerapan repositori ini menjadi solusi strategis untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan pengetahuan serta memperkuat budaya literasi digital. “Kami ingin sekolah terbiasa membagikan pengetahuan secara terbuka dan terorganisir,” ujarnya.

Sebelum sistem ini diberlakukan, menurut Teguh guru biologi SPK SMP Xin Zhong proses distribusi informasi akademik masih sangat bergantung pada media cetak dan dokumentasi manual yang menyulitkan akses bagi guru maupun siswa. Transformasi digital melalui Repository memperbaiki hal tersebut secara signifikan.

Menurut Otniel, guru Bahasa Indonesia SPK SMA Xin Zhong, siswa kelas 10 hingga 12 kini mengikuti program karya tulis ilmiah yang mendorong mereka untuk tidak hanya belajar meneliti, tetapi juga mempublikasikan hasilnya. “Dengan repositori ini, siswa bisa mengakses referensi dan contoh karya teman-teman sebelumnya. Ini sangat membantu, terutama bagi mereka yang baru belajar meneliti,” jelasnya.

Menurut Dio, pustakawan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Meskipun selama ini repositori digital lebih dikenal dan digunakan di lingkungan perguruan tinggi, sekolah di berbagai jenjang sebenarnya juga berhak dan berpeluang besar untuk memanfaatkannya. Repositori bisa menjadi wadah pelestarian konten lokal milik sekolah, mulai dari siswa, guru, hingga tenaga kependidikan. Dengan begitu, karya-karya yang dihasilkan tidak hanya terdokumentasi secara digital, tetapi juga dapat diakses lintas generasi, memberi nilai manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Namun, pelaksanaan sistem ini belum sepenuhnya mulus. Inge, Kepala Non-Akademik Xin Zhong School menyatakan bahwa belum ada evaluasi mendalam terkait sejauh mana guru telah memanfaatkan repositori tersebut dalam praktik pembelajaran. Menurut UNESCO IITE (2022), penerapan sistem penyimpanan digital untuk dokumen akademik masih sangat terbatas di banyak sekolah menengah, khususnya di negara berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa digitalisasi literasi ilmiah belum menjadi praktik umum di jenjang pendidikan menengah.
Apa yang dilakukan Xin Zhong School menunjukkan bahwa transformasi digital dalam bidang literasi dan publikasi akademik bukan hanya milik perguruan tinggi.

Sekolah pertama dan menengah pun mampu menginisiasi langkah maju dalam mengelola pengetahuan, membiasakan siswa untuk berpikir ilmiah, menulis, serta berbagi karya dalam ekosistem terbuka.

Repositori digital bukan sekadar tempat menyimpan dokumen, melainkan simbol komitmen terhadap budaya ilmiah, transparansi akademik, dan literasi digital. Jika lebih banyak sekolah mengikuti langkah ini, bukan tidak mungkin kita akan melihat generasi muda yang lebih siap menghadapi tantangan dunia akademik dan global. (Red)