SIDOARJO, Indonesiajayanews.com – Sebagai wujud nyata kontribusi pendidikan vokasi dalam pengembangan UMKM lokal, tim dosen Program Studi D4 Teknologi Rekayasa Otomotif, Fakultas Vokasi, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melaksanakan program pengabdian masyarakat komprehensif di Bengkel Nandar Automotive, Keboansikep, Kecamatan Gedangan. Program bertajuk “Peningkatan Produktivitas Kinerja Bengkel Nandar Automotive melalui Pelatihan Manajemen K3 dan Penerapan Standard Operating Procedure (SOP)” ini berhasil menciptakan transformasi sistemik dalam pengelolaan bengkel.
Bengkel yang telah berpengalaman melayani masyarakat selama bertahun-tahun ini sebelumnya menghadapi tantangan multidimensi. Keterbatasan kelengkapan peralatan servis berdampak pada efisiensi pekerjaan, sementara minimnya pemahaman tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menimbulkan potensi risiko kecelakaan kerja. “Kami sering kesulitan ketika harus melakukan servis di lokasi pelanggan karena keterbatasan peralatan yang portabel dan lengkap,” tutur Nandar, pemilik bengkel.
Dr. Warju, salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa ketiadaan SOP yang terstandardisasi juga menyebabkan variasi kualitas pelayanan. “Tanpa SOP yang terdokumentasi dengan baik, sangat sulit menjaga konsistensi kualitas layanan, apalagi untuk membimbing siswa magang,” paparnya.
Program yang diketuai oleh Susi Tri Umaroh, S.Pd., M.Pd. ini melibatkan seluruh dosen Prodi D4 Teknologi Rekayasa Otomotif, termasuk Sudirman Rizki Ariyanto, M.Pd., M.T.; Ir. Ferly Isnomo Abdi, S.T., S.Pd., M.T.; Dr. Warju, S.Pd., S.T., M.T.; Lailatus Sa’diyah Yuniar Arifianti, S.T., M.T.; dan Dr. Yustin Setiya Widoretno, M.Pd. Melalui pendekatan partisipatif, tim merancang solusi yang menyentuh akar permasalahan.
Bantuan set peralatan servis lengkap yang diberikan dirancang khusus untuk mendukung operasional bengkel secara menyeluruh. “Set peralatan ini tidak hanya untuk kebutuhan di bengkel, tetapi juga didesain portabel untuk mendukung layanan servis panggilan yang dapat meningkatkan jangkauan usaha dan pendapatan,” jelas Susi Tri Umaroh.

Aspek keselamatan kerja mendapat perhatian khusus melalui pelatihan K3 komprehensif yang mencakup identifikasi bahaya, pengendalian risiko, dan prosedur darurat. “Kami tidak hanya memberikan teori, tetapi juga simulasi langsung penanganan keadaan darurat di bengkel,” tambah Sudirman Rizki Ariyanto.
Yang tak kalah penting, program ini memfasilitasi kebutuhan bengkel sebagai tempat praktik siswa magang. “Kami menyusun modul pelatihan dan SOP yang dapat digunakan sebagai panduan baku untuk kegiatan pembelajaran siswa magang,” ungkap Ferly Isnomo Abdi.
Dampak program telah dirasakan langsung oleh Nandar. “Sekarang kami bisa melayani servis panggilan dengan peralatan yang lengkap. Sistem K3 dan SOP yang diterapkan juga memudahkan dalam membimbing siswa magang, sekaligus meningkatkan kepercayaan pelanggan,” ujarnya bersemangat.

Lailatus Sa’diyah menambahkan bahwa keunggulan program ini terletak pada sustainability-nya. “Sistem yang kami bangun dirancang untuk terus berkembang seiring pertumbuhan bengkel, termasuk dalam mendukung program magang yang lebih terstruktur.”
Dr. Yustin Setiya Widoretno menekankan bahwa program ini sejalan dengan visi pendidikan vokasi. “Ini adalah bentuk nyata link and match antara dunia pendidikan dengan kebutuhan riil industri, khususnya UMKM otomotif.”
Program pengabdian masyarakat ini tidak hanya berhasil meningkatkan kapasitas teknis bengkel, tetapi juga menciptakan model kemitraan yang saling menguntungkan antara institusi pendidikan vokasi dengan usaha otomotif lokal, sekaligus membuka peluang pengembangan teaching industry di masa depan.(Arifin)













