Surabaya, Indonesiajayanews.com – Jawa Timur terus berkomitmen memperkuat kapasitas para relawannya melalui aksi kolaborasi. Kali ini, kolaborasi dilakukan BPBD Jatim dengan Sekber Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jatim melalui kegiatan Arisan Ilmu Nol Rupiah ke-65.
Kegiatan yang diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai organisasi relawan mitra SRPB Jatim digelar di Aula Taman Edukasi Bencana BPBD Jatim, dengan mengusung tema “Bersiap Siagalah dalam Segala Hal. Hadir dalam kegiatan ini, Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto, Ketua Tim Pencegahan Bidang PK BPBD Jatim Dadang Iqwandy, Koordinator SRPB Jatim Subekti Rahmad Kimiawan dan sejumlah narasumber.
Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto dalam sambutannya mengingatkan, pentingnya kewaspadaan terhadap perubahan siklus dan dinamika iklim yang semakin tidak menentu. “Kita harus waspada terhadap perubahan siklus dan iklim. Kapasitas relawan harus terus dimatangkan. Jangan pernah berhenti belajar,” pesannya dalam keterangan tertulisnya. Kamis, (5/3/2026).
Ia juga mengapresiasi konsistensi SRPB Jatim dalam menyelenggarakan Arisan Ilmu yang telah berjalan bertahun-tahun. Menurutnya, forum ini menjadi bukti bahwa proses belajar di kalangan relawan tidak pernah berhenti. “Alhamdulillah, melalui Arisan Ilmu, budaya belajar terus tumbuh. Menghadapi kondisi saat ini, kita tidak bisa sendiri. Harus bersama, saling berkolaborasi dan saling menguatkan,” tandasnya.
Dadang Iqwandy juga menegaskan, relawan adalah garda terdepan saat bencana terjadi. Karena itu, peningkatan kapasitas dan kompetensi kesiapsiagaan harus dilakukan secara konsisten. Dalam kesempatan ini, para peserta juga diberikan materi tentang cara bertahan hidup di saat krisis atau managemen survival.
Wawan Kimiawan yang juga selaku penasehat Survival Skills Indonesia hadir sebagai narasumber utama bersama dan Daffa Nouval (Chapter Jatim). Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif dan kontekstual dengan kondisi kebencanaan di Jawa Timur. Beberapa pokok bahasan yang dikupas, di antaranya, tentang manajemen bertahan hidup (survival management) dalam kondisi darurat, termasuk teknik membaca situasi dan menentukan prioritas keselamatan.
Kesiapsiagaan individu dan tim, meliputi standar perlengkapan dasar relawan (personal survival kit) dan manajemen logistik sederhana di lapangan. Mitigasi risiko berbasis lingkungan, terutama dalam menghadapi perubahan siklus cuaca dan potensi bencana hidrometeorologi.
Penguatan mental dan kepemimpinan relawan, agar tetap tenang, adaptif, dan mampu mengambil keputusan cepat saat krisis. Wawan Kimiawan juga menekankan, bahwa survival bukan sekadar kemampuan bertahan hidup di alam bebas, melainkan kemampuan mengelola risiko dalam situasi apa pun. “Kesiapsiagaan harus menjadi budaya, bukan hanya respons saat bencana terjadi,” tegasnya. (Arifin/Kominfo)













